Pengertian Al-Qur'an Secara Etimologi dan Terminologi - Kitab suci terakhir yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. adalah al-Qur’an. Setiap muslim wajib mengimani al-Qur’an dan juga kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya, yaitu Zabur, Taurat dan Injil. Al-Qur’an berfungsi untuk membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya. Kita sebagai seorang muslim seharusnya mengenal al-Qur’an sebagai pedoman hidup way of life. Untuk mengenal al-Qur’an, hendaknya dimulai dengan memahami apa pengertian al-Qur’an serta segala hal yang berkaitan dengannya. Dan yang paling penting lagi adalah memahami isinya, untuk selanjutnya dapat melaksanakan ajaran-ajaranya. Bagi Nabi Muhammad saw., al-Qur’an berfungsi sebagai mu’jizat yang terbesar yang berlaku kekal abadi. Sebagai kitab mu’jizat, al-Qur’an tidak mungkin dapat ditiru dari aspek manapun dan oleh siapapun, karena alQur’an adalah benar-benar wahyu dari Allah Swt. Para ulama dalam bidang ilmu al-Qur’an telah mendefinisikan al-Qur’an menurut pemahaman mereka masing-masing, baik secara etimologi maupun terminologi. Secara etimologi para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan alQur’an. Berikut adalah beberapa pendapat tersebut Pengertian Al-Qur'an Secara Etimologi Menurut al-Lihyany w. 215 H dan segolongan ulama lain Kata Qur’an adalah bentuk masdar dari kata kerja fi'il. Qoroa artinya membaca, dengan perubahan bentuk kata/ tasrif Qoroa-Yaqrou - Qur'ana. Dan tasrif tersebut, kata Qur'ana artinya bacaan yang bermakna isim maf'ul artinya dibaca. Karena al-Qur’an itu dibaca maka dinamailah al-Qur’an. Kata tersebut selanjutnya digunakan untuk kitab suci yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. Pendapat ini berdasarkan ¿rman Allah Swt. sebagaimana yang termaksud dalam QS. al-Qiyamah ayat 17-18. Menurut Al-Asy’ari w. 324 H dan beberapa golongan lain Kata Qur’an berasal dari lafaz Qorona yang berarti menggabungkan sesuatu dengan yang lain. Kemudian kata tersebut dijadikan sebagai nama Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya, mengingat bahwa surat-suratnya, ayat-ayatnya dan huruf-hurufnya beriring-iringan dan yang satu digabungkan kepada yang lain. Menurut Al-Farra’ w. 207 H Kata al-Qur’an berasal dari lafad Qoroinu merupakan bentuk jama’ dari kata Qorinati yang berarti petunjuk atau indikator, mengingat bahwa ayat-ayat al-Qur’an satu sama lain saling membenarkan. Dan kemudian dijadikan nama bagi Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw Menurut Az-Zujaj w. 331 H Kata Qur’an itu kata sifat dari al-qor'u yang sewazan seimbang dengan kata pu'lan yang artinya al-jam'u kumpulan. Selanjutnya kata tersebut digunakan sebagai salah satu nama bagi kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., karena al-Qur’an terdiri dari sekumpulan surah dan ayat, memuat kisahkisah, perintah dan larangan, dan mengumpulkan inti sari dari kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Menurut Asy-SyaĮ’i w. 204 H Kata al-Qur’an adalah isim ’alaam, bukan kata bentukan isytiqa'q dari kata apapun dan sejak awal memang digunakan sebagai nama khusus bagi kitab suci yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. sebagaimana halnya dengan nama-nama kitab suci sebelumnya yang memang merupakan nama khusus yang diberikan oleh Allah Swt. yaitu Zabur Nabi Dawud as., Taurat Nabi Musa as. dan Injil Nabi Isa as.. Menurut Abu Syuhbah dalam kitabnya yang berjudul al-Madkhal li Dirasah Al-Qur’an al-Karim, dari kelima pendapat tersebut di atas, pendapat pertamalah yang paling tepat yakni menurut al-Lihyani yang menyatakan bahwa kata alQur’an merupakan kata bentukan isytiqaq dari kata Qoroa dan pendapat inilah yang paling masyhur. Ditinjau dari pengertian secara terminologi, para ulama’ juga berbeda-beda pendapat dalam mende¿nisikan al-Qur’an. Perbedaan itu terjadi disebabkan oleh adanya perbedaan sudut pandang dan perbedaan dalam menyebutkan unsur-unsur, sifat-sifat atau aspek-aspek yang terkandung di dalam al-Qur’an itu sendiri yang memang sangat luas dan komprehensif. Semakin banyak unsur dan sifat dalam mende¿nisikan al-Qur’an, maka semakin panjang redaksinya. Namun demikian, perbedaan tersebut bukanlah sesuatu yang bersifat prinsipil, justru perbedaan pendapat tersebut bisa saling melengkapi satu sama lain, sehingga jika pendapatpendapat itu digabungkan, maka pemahaman terhadap pengertian al-Qur’an akan lebih luas dan komprehensif Pengertian Al-Qur'an Secara Terminologi Syeikh Muhammad Khudari Beik Dalam kitab Tarikh at-Tasyri al-Islam, Syeikh Muhammad Khudari Beik mengemukakan defnisi al-Qur’an sebagai berikut Artinya “Al-Qur’an ialah lafaz ϔirman Allah Swt. yang berbahasa Arab, yang diturunkan kepada Muhammad saw., untuk dipahami isinya dan selalu diingat, yang disampaikan dengan cara mutawatir, yang ditulis dalam mushaf, yang dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas.” Subkhi Shalih Subkhi Shalih mengemukakan defnisi al-Qur’an sebagai berikut Artinya “Al-Qur’an adalah kitab Allah Swt. yang mengandung mu’jizat, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., yang ditulis dalam mushaf-mushaf, yang disampaikan secara mutawatir, dan bernilai ibadah membacanya.” Syeikh Muhammad Abduh Sedangkan Syeikh Muhammad Abduh mendefnisikan al-Qur’an dengan pengertian sebagai berikut Artinya “Kitab al-Qur’an adalah bacaan yang tertulis dalam mushaf-mushaf, yang terpelihara di dalam dada orang yang menjaganya dengan menghafalnya yakni orang-orang Islam.” Unsur Pengertian Al-Qur'an Dari ketiga pendapat di atas, dapat disimpulkan beberapa unsur dalam pengertian al-Qur’an sebagai berikut Al-Qur’an adalah ¿rman atau Kalam Allah Swt. Al-Qur’an terdiri dari lafal berbahasa Arab Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an merupakan kitab Allah Swt. yang mengandung mu’jizat bagi Nabi Muhammad saw. yang diturunkan dengan perantara Malaikat Jibril. Al-Qur’an disampaikan dengan cara mutawatir berkesinambungan. Al-Qur’an merupakan bacaan mulia dan membacanya merupakan ibadah. Al-Qur’an ditulis dalam mushaf-mushaf, yang diawali dengan surah al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Nas Al-Qur’an senantiasa terjaga/terpelihara kemurniannya dengan adanya sebagian orang Islam yang menjaganya dengan menghafal al-Qur’an. Pengertian Al-Qur'an Secara Etimologi dan Terminologi Oleh
Pengertian Ulumul Quran Dan Hubungannya Dengan Ilmu Tafsir Dan Usul Tafsir Mengkaji AlQuran membutuhkan seperangkat ilmu pengetahuan dan metodologi yang benar demi menghindari berbagai kemungkinan terjadinya kesalahan dalam menafsiran AlQuran. Seperangkat ilmu tersebut telah dikaji para ulama sejak permulaan Islam, dan pada abad ke VI hijiriyah disiplin ilmu ini kemudian dikenal dengan sebutan Ulumul Quran’.Ulumul Quran dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan semua ilmu yang berkaitan dengan Alquran. Oleh karena demikian, ruang lingkup Ulumul Quran yang diklasifikasi dan dipetakan para cendikiawan muslim masih terus berkembang seiring dengan semangat manusia untuk menggali ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Alquran cabang Ulumul Quran yang demikian kompleks ternyata telah menimbulkan sebuah kegalauan dikalangan orang awam dalam mengidentifikasi hubungan Ulumul Quran dengan displin ilmu lain yang berhubungan dengannya, seperti Ilmu Tafsir dan usul al-tafsir. Oleh karena itu masih perlu pengkajian tentang defenisi Ulumul Quran, Ilmu Tafsir, dan Usul At-Tafsir dengan melihat sisi persamaan dan perbedaannya. Pengertian Ulumul QuranUngkapan Ulumul Quran telah menjadi nama bagi suatu disiplin ilmu dalam kajian Islam. Dari segi gramatikal kalimatnya Ulumul Quran adalah kalimat majemuk idhofah, yaitu terdiri dari kata ulum عُلُوْمْ dan Alquran القُرْاَنْ . Untuk mengungkap pengertian Ulumul Quran penulis akan terlebih dahulu membahas pengertian dua kata tersebut secara terpisah, baik dari sisi etimologi dan terminologinya, kemudian dilanjutkan dengan pengertian Ulumul Quran secara Pengertian Ulum Secara Etimologi dan TerminologiKata ulum’ berasal dari bahasa Arab, yaitu ulum merupakan bentuk jamak dari kata عِلْمُ ilm. Bentuk masdarnya adalah terdiri dari kataعَلِمَ- يَعْلَمُ – عِلْمٌ جمعه عُلُوْمٌ. Secara etimologi arti kata عِلْمُ ilmu adalah semakna dengan kata وَمَعْرِفَةٌ فَهْمٌ pemahaman dan pengetahuan, dan pada pendapat yang lain kata ilmu juga diartikan dengan kata جَزْمٌ pasti, artinya suatu kepastian yang dapat diterima akal penjelasannya. Di dalam Ensiklopedi Islam dijelaskan bahwa kata ilmu adalah merupakan lawan kata dari jahl yang berati ketidak tahuan, atau kebodohan. Kata ilmu juga biasa disepadankan dengan kosa kata bahasa arab lainnya, yaitu ma’rifah pengetahuan, fiqh pemahaman, hikmah kebijaksanaan, dan syu’ur perasaan. Ma’rifah adalah padanan kata yang paling sering M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa setiap kosa kata bahasa Arab yang menggunakan kata yang tersusun dari huruf-huruf ain, lam, dan mim ع ل م dalam berbagai bentuknya adalah berarti sesuatu yang sedemikian jelas sehingga tidak menimbulkan keraguan. Berdasarkan pengertian ini, penulis menyimpulkan bahwa dari sisi etimologi arti kata ulum sebagai jamak dari kata ilmu adalah berarti kumpulan dari beberapa ilmu secara terminologi cukup beragam sekali. Sebab pengertian tersebut selalu diwarnai oleh pendekatan dan disiplin ilmu yang digunakan oleh masing-masing tokoh, antara laina. M. Quraishy Shihab selaku ulama tafsir mendefenisikan ilmu dengan اِدْرَاكُ الشَّيْءِ بِحَقِيْقَتِهِ mengetahui yang sebenarnya. b. Menurut para hukama’ ilmu adalahيريدون به صورة الشيء الحاصلة فى العقل او تعلق النفس با الشيء على جهة انكشافه. Artinya "Suatu yang dengannya memberikan gambaran terhadap sesuatu yang dihasilkan akal atau ketergantungan diri dengan sesuatu berdasarkan ungkapan yang jelas."c. Para ahli kalam memberi pengertian ilmu denganبانه صفة يتجلى بها الامر لمن قامت "Suatu yang dengannya ilmu seseorang menjadi memiliki sifat yang jelas dalam menghadapi suatu perkara."Ketika ilmu diartikan dengan pengetahuan, maka pengetahuan memiliki dua jenis, yaitu pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah. Pengetahuan biasa diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan, seperti perasaan, pikiran, pengalaman, panca indra, dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek, cara, dan kegunaannya. Dalam bahasa inggris jenis pengetahuan ini disebut knowledge. Selanjutnya Pengetahuan ilmiah adalah keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memperhatikan objek yang ditelaah, cara yang digunakan, dan kegunaan pengetahuan tersebut. Dengan kata lain, pengetahuan ilmiah harus memperhatikan objek ontologis, landasan epistomologis, dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri. Jenis pengetahuan ini dalam bahasa inggris disebut science. Maka adapun ilmu yang masuk dalam kategori pengetahuan ini adalah pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan utuh terhadap suatu objek yang dapat dibuktikan umum, “Defenisi ilmu dalam epistomologi Islam mempunyai kemiripan dengan istilah science dalam epistomologi Barat. Yakni ilmu tersebut harus mempunyai 5 lima ciri pokoka. Empiris. Pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan Sistematis. Berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan Objektif. Ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan Analitis. Pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya ke dalam bagian-bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan dan peranan dari bagian-bagian Verifikatif. Dapat diperiksa kebenarannya oleh siapapun secara spesifik, defenisi ilmu menurut pandangan ilmuwan Barat memiliki perbedaan dengan pengertian ilmu menurut pandangan ilmuwan Muslim. Dalam epistomologi Islam, wahyu dan akal dijadikan sebagai sumber ilmu. Sedangkan dalam epistomologi Barat, wahyu tidak termasuk ilmu, karena tidak sebagian besarnya tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara pengertian ilmu juga dapat ditinjau dari penjelasan ayat Alquran, misalnya sebagaimana penjelasan firman Allah Swt. dalam Surah An-Naml آتَيْنَا دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا وَقَالا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ ١٥ وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُدَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ ١٦Artinya “Dan Sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan "Segala puji bagi Allah yang melebihkan Kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman". Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan Dia berkata "Hai manusia, Kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan Kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya semua ini benar-benar suatu kurnia yang nyata".Dengan menyimak ayat di atas, dapat diketahui bahwa ilmu yang diwariskan Allah kepada nabi Daud dan Sulaiman ada dua bagian. Yaitu ilmu tentang pengelolaan Alam sunnatullah sebagai investasi untuk menjalankan kenabian dan roda pemerintahan yang dipimpinnya, dan ilmu tentang kalamullah, yaitu ilmu pengetahuan tentang kandungan kitab demikian sebuah ilmu dalam Islam tidak lah bebas nilai, bahkan sarat dengan nilai-nilai etik. Ajaran Islam juga tidak memisahkan antara ilmu syari’ah dengan ilmu non syariah, karena hakikat ilmu dalam konsep Islam adalah memiliki prinsip kesatuan tauhid. Kesatuan ilmu pengetahuan tersebut berkaitan dengan tidak ada lagi pemisahan antara pengetahuan rasional aqli dan irasional naqli.Sedangkan dalam konteks disiplin ilmu, Abu Syahbah menjelaskan bahwa suatu disiplin ilmu adalah sejumlah materi pembahasan yang dibatasi kesatuan tema atau tujuan. Maksudnya sebuah ilmu itu harus memiliki kesatuan kawasan garapan pembahasan yang jelas dan tujuan demikian, penulis menyimpulkan bahwa pengertian kata ulum sebagai jamak dari kata ilmu adalah berarti kumpulan dari sejumlah pengetahuan ilmiah yang membahas sejumlah materi yang dibatasi kesatuan tema atau Pengertian Alquran Secara Etimologi dan TerminologiAlquran secara etimologi mengeandung makna yang berbeda-beda di kalangan para ulama, yaitu sebagai berikuta. Al-Lihyani dan kawan-kawan mengatakan Alquran berasal dari kata qara-a membaca adalah merujuk kepada firman Allah Swt. Pada surat al-Qiyamah 75 ayat 17-18إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ ١٧ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ ١٨Artinya “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya di dadamu dan membuatmu pandai membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya Al-Zujaj menjelaskan bahwa kata Alquran merupakan kata sifat yang berasal dari kata القرأ al-qar’ yang artinya menghimpun. Kata sifat ini kemudian dijadikan nama bagi firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw. Makna tersebut menunjukkan bahwa kitab Alquran menghimpun surat, ayat, kisah, perintah, larangan dan intisari kitab-kitab suci Al-Asy’ari mengatakan bahwa Alquran diambil dari kata kerja qarana’ menyertakan karena Alquran menyertakan surat, ayat, dan Al-farra’ menjelaskan bahwa kata Alquran diambil dari kata dasar qara’in’ penguat karena Alquran terdiri dari ayat-ayat yang saling menguatkan, dan terdapat kemiripan antara satu ayat dengan ayat-ayat lainnya. Dengan demikian, pengertian Alquran secara etimologi menunjukkan bahwa Alquran meliputi berbagai kriteria, seperti; kitab yang menjadi bacaan, kitab yang menghimpun berbagai hal, kitab yang mengandung berbagai kebaikan, dan kitab yang menguatkan kebenaran. Artinya semua makna nama-nama di atas adalah memberikan pesan dan kesan positif terhadap kedudukan dan peran Alquran di tengah-tengah kehidupan manusia. Dalam teori yang lain disebutkan bahwa istilah Alquran bukanlah berasal dari pecahan kata dalam bahasa Arab, tetapi ia adalah suatu nama khusus yang ditujukan kepada kumpulan wahyu Allah SWT. yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, istilah Alquran setara dengan nama kitab-kitab suci sebelumnya, seperti Taurat, Zabur, dan Injil. Semua istilah ini adalah nama khusus bagi kumpulan wahyu Allah SWT. yang diturunkan kepada para defenisi Alquran secara terminologi telah mendapat komentar dari berbagai ulama. Namun defenisi yang paling populer di kalangan ulama tafsir adalah sebagai berikuta. Menurut Manna’ Al-Qaththanكَلَامُ اللهِ الْمُنَزّلُ عَلَى مُحَمّدٍ ص .م. المُتَعَبّدُ Alah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. dan membacanya memperoleh pahala”.Kalimat membacanya memperoleh pahala’ pada pengertian di atas telah memberikan kesan pada sebahagian orang bahwa hanya Alquran yang berpahal membacanya. Bacaan-bacaan lainnya pun banyak juga yang bernilai pahala membacanya, seperti hadist, zikir dan lain-lain. Oleh karena itu, Maksud defenisi Al-Qaththan tersebut adalah bermaksud untuk menunjukkan keistimewaan membaca Alquran al-Karim dibanding bacaan-bacaan yang Menurut Abu Syahbahاتُرِ الْمُفِيْدُ لِلْقَطْعِ وَالْيَقِيْنِ الْمَكْتُوْبُ فِى الْمَصَاحِفِ مِنْ اَوّلِ سُوْرَةِ الفَاتِحَةِ اِلىَ آخِرِ سُوْرَةِ النّاسِ. Artinya“Alquran adalah kitab Allah yang diturunkan – baik lafadzh maupun maknanya- kepada nabi terakhir, Muhammad Saw., yang diriwayatkan secara mutawatir, yakni dengan penuh kepastian dan keyakinan akan kesesuaiannya dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad, yang ditulis pada mushaf mulai dari awal surat al-Fatihah sampai akhir surat di dalam Alquran, Allah Swt. menjelaskan pengertian Alquran dengan firman-Nyaوَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدىً وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ النحل 89Artinya“Dan Kami turunkan kepadamu Muhammad Al Kitab Al Quran untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” An Nahl bagian dari ayat 89Berdasarkan pengertian di atas, penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Alquran secara terminologi adalah nama khusus bagi kitab suci yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. dan terjamin kemurniannya sampai hari Pengertian Ulumul Quran Secara Etimologi dan TerminologiSebagaimana dijelaskan di atas ungkapan Ulumul Quran telah menjadi nama bagi suatu disiplin ilmu dalam kajian keilmuan Islam. Secara bahasa Ulumul Quran berarti ilmu-ilmu Alquran. Oleh karena itu di Indonesia disiplin ilmu ini kadang-kadang disebut ulumul Qur’an dan kadang-kadang disebut juga ilmu-ilmu Alquran. Dengan demikian kata ulum yang disandarkan kepada kata Alquran tersebut telah memberikan pengertian bahwa Ulumul Quran adalah suatu disiplin ilmu yang mengandung berbagai disiplin ilmu yang berhubungan dengan Alquran, baik dari segi keberadaannya sebagai Alquran maupun dari segi pemahamannya terhadap petunjuk yang terkandung di sisi gramatikalnya, pengertian ulum al-Quran dapat dipahami melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan idhafi dan maknawi. Pengertian Ulumul Quran secara idhafi – yang merupakan bentuk idhofi ghoiru mahdhah – adalah berarti semua Ilmu yang berhubungan dengan Alquran karena lafadh “Ulum” adalah jamak yang berarti banyak, sehingga mencakup semua ilmu yang membahas Alquran dari berbagai macam segi. Antara lain, Ilmu Tafsir, ilmu qira’at, ilmu rasm ustmany, ilmu gharib lafadzh, majaz qur’an, dan definisi Ulumul Quran secara maknawi adalah setiap disiplin ilmu yang kajiannya berkaitan dengan AlQuran, seperti menurut Abu Bakar al-Arabi ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Alquran mencapai bagian. Hitungan ini beliau peroleh dari hasil perkalian jumlah kalimat Alquran dengan empat, karena masing-masing kalimat Alquran mempunyai makna zhahir, batin, hadd, dan mathla’. Jumlah tersebut akan semakin bertambah jika melihat urutan kalimat di dalam Alquran serta hubungan urutan itu. Jika sisi itu yang dilihat maka ruang lingkup/kawasan pembahasan Ulumul Quran tidak akan dapat terhitung lagi – Allah yang lebih pengertian Ulumul Quran secara terminologi menurut para ulama adalah sebagai berikut a. Menurut Muhammad hasby Ash-Shiddiqy مَبأَحِثُ تَتَعَلّقُ بِالْقُرْأنِ الْكَرِيْمِ مِنْ نَاحِيَةِ نُزُوْلِهِ وَتَرْتِيِبِهِ وَجَمْعِهِ وَكِتَابَتِهِ وَقِرَاءَتِهِ وَتَفْسِيْرِهِ وَاِعْجَازِهِ وَنَاسِخِهِ وَمَنْسُوْخِهِ وَدَفْعِ الشُّبَهِ وَنَحْوِ ذَالِكَ . Artinya “Beberapa pemahaman yang berhubungan dengan Al Qur’an Al-Karim, dari segi turunnya, urutan penulisan, kodifikasi, cara membaca, kemukjizatan, nasikh, mansukh, dan penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, serta hal-hal lain”. b. Dalam kutipan Rosihon Anwar, Abu Syahbah menyebutkan pengertian Ulumul Quran denganعِلْمٌ ذُوْ مَبَا حِثَ تتعلّقُ باِالقُرْآنِ الْكَرِيْمِ مِنْ حَيْثُ نُزُوْلِهِ وَتَرْتِيْبِهِ وَكِتَابَتِهِ وَجَمْعِهِ وَقِرَاءَ تِهِ وَتِفْسِيْرِهِ وَاِعْجَازِهِ وَنَاسِخِهِ وَمَنْسُوْخِهِ وَمُتَشَابِهِهِ إِلىَ غَيْرِ ذَالِكَ مِنْ المَبَاحِثِ الّتِى تُذْكَرُ فِي هَذَا “Beberapa pemahaman yang berhubungan dengan Al Qur’an Al-Karim, dari segi turunnya, urutan penulisan, kodifikasi, cara membaca, kemukjizatan, nasikh, mansukh, dan penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, serta hal-hal lain”.Walaupun dengan redaksi yang sedikit berbeda, defenisi-defenisi di atas mempunyai maksud yang sama. Yaitu menyatakan bahwa pengertian Ulumul Quran adalah suatu pembahasan mengenai dimensi-dimensi Alquran-yang pada mulanya merupakan ilmu-ilmu yang tidak keluar dari ilmu-ilmu agama dan bahasa. Dengan demikian, pengertian Ulumul Quran di atas mengandung dua substansi pokok, yaitu a. Ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah pembahasanb. Pembahasan-pembahasan ini mempunyai hubungan dengan Alquran, baik dari segi aspek keberadaannya sebagai Alquran maupun aspek pemahaman kandungannya sebagai pedoman dan petunjuk hidup bagi manusia. Selanjutnya kata مَباحِثَ pada defenisi pertama di atas-yang merupakan bentuk jamak tidak berhingga sigah muntaha al-jumu’ -adalah menegaskan bahwa pembahasan Ulumul Quran pada pengertian di atas tidak terbatas pada aspek-aspek yang ditampilkan saja, melainkan mencakup pembahasan tentang penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan-keraguan terhadap keluasan kawasan garapan al’Ulumul Quran juga diperkuat oleh kata وَنَحْوِ ذَالِكَ yang berarti menunjukan pembahasan apapun yang tidak dapat disebutkan jumlahnya, sejauh ilmu tersebut menyoroti aspek-aspek al Qurân termasuk ulum al -Qurân.hGBvPb.